Kekuatan Rasio Manusia (Edisi 1)

KEKUATAN RASIO MANUSIA[1]

Iwan Febriyanto Vegan*)

Rahasia Matematika dalam Fenomena Alam Semesta

Menurut pandangan kaum Platonis, kita tidak menciptakan Matematika, akan tetapi kita menemukannya. Selanjutnya pandangan kedua dari Plato, dalam realitas terdapat dunia fisik. Objek-objek dari aturan-aturan matematik menikmati eksistensi independen: mereka melampaui realitas fisik yang berhadapan dengan panca indera kita. C.S Pierce menyatakan bahwa adalah mungkin kalau ada rahasia tertentu dalam matematika yang tetap harus diobservasi. Pandangan berseberangan dari kaum Platonik adalah Teorema Ketidaklengkapan dari  Kurt Godel, didukung oleh ahli fisika Eugene Wigner menulis tentang efektifitas yang tidak masuk akal dari matematika dalam ilmu pengetahuan alam. Sekali lagi kita jangan melupakan pandangan ahli astronomi James Jeans sekali waktu pernah menyatakan bahwa Tuhan seorang matematikus. Keyakinan ini tentu saja memperkuat pandangan penulis bahwa struktur berhitung dalam fikiran Tuhan sangat sempurna.  Struktur fisik alam semesta yang ditopang oleh unsur-unsur sangat kompleks khususnya planet bumi yang menjadi tempat terindah dan paling nyaman bagi kehidupan mahluk hidup. Tersedianya atom Hidrogen (H) dan atom Oksigen (O), membentuk molekul air (H2O) dalam jumlah yang berlimpah dan seimbang.

Ide bahwa dunia fisik sebagai manifestasi dari harmonisasi dan tatanan matematis telah digagas oleh folosof Yunani; Aristoteles, Euclides, Plato . Selanjutnya ilmuwan Muslim juga banyak belajar dari karya-karya klasik ini melalui para filosof dan kaum intelektual. Sejumlah nama besar nan Agung Ibnu Sina, Ibnu Rusd, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Al-Ghozali, Al-Jabar dan ratusan ilmuwan lainnya yangbermukim di Baghdad hingga Bosnia, Transoxania hingga Ottoman. Karya mereka berjumlah ribuan dalam berbagai bidang meliputi kedokteran, Matematika, Ekonomi, Kimia, Arsitektur, Hukum dan bidang lainnya. Melalui karya-karya ilmuwan muslim inilah peradaban Eropa menemukan jalannya menuju kejayaan dan kegemilangan. Diawali era renaissance (kebangkitan kembali) muncullah ilmuwan semasanya. Galileo, Newton, Descartes melalui pembacaannya “Buku Alam” tertulis dalam bahasa matematis. Ilmuwan besar ini sukses meruntuhkan pandangan gereja orthodox sekaligus kaum peramal, penyihir dan mistis kristus yang meletakkan alam semesta secara jumud, kaku dan sacramental. Mereka meyakini ada kekuatan ilahiah eksakta atas keteraturan alam semesta. Dengan demikian mereka juga meyakini bahwa ada tangan yang mengatur jagad raya ini. Anda tentu saja sudah tahu, siapa yang maha sempurna itu?

Baiklah untuk lebih jelas mengenai pertentangan Godel dan Plato, mari kita perhatikan contoh berikut ini : “Dua puluh tiga adalah bilangan prima terkecil yang lebih besar dari dua puluh”. Statemen ini mungkin saja benar tetapi mungkin saja salah. Menurut penulis, memang ia benar. Namun pertanyaan selanjutnya apakah statemen itu benar dalam pengertian absolut nir-waktu. Apakah pernyataan itu benar sebelum penciptaan/penemuan bilangan prima? Kaum Platonis menjawab ya, karena bilangan prima eksis secara abstrak, tanpa memperdulikan apakah manusia mengetahuinya atau tidak. Sedangkan kaum formalis/Godel akan menolak pernyataan itu karena tidak bermakna. Mari kita perhatikan apa sesungguhnya yang difikirkan oleh kaum matematikus profesional dan mayoritas ahli matematika. Kenyataan yang tak terelakkan bahwa ketika kita sebagai ahli dan pencinta matematika sedang  mengerjakan matematika sesungguhnya kita sedang terlibat dalam penemuan, sebagaimana halnya dalam sains eksperimental.

Menarik untuk menyimak ahli matematik, Rudy Rucker memikirkan obyek matematis yang mencakup sejenis ruang mental – yang disebutnya “Mindscape”, tepat seperti obyek fisik yang kita kenal sebagai ruang fisik. Rudy Rucker menyatakan bahwa seorang periset matematika ulung dan serius adalah seorang penjelajah Mindscape yang dalam banyak hal sama dengan penjelajah Niel Amstrong, Livingstone dan Coustean yang menjadi penjelajah sisi fisik dari alam semesta. John Barrow menguatkan aspek psyche sang penyelidik dalam penemuan independen matematika. Penrose memperkuat bahwa cara para ahli matematika menemukan dan mengkomunikasikan hasil-hasil matematika kepada satu sama lain adalah bukti tentang dunia Platonik, atau Mindscape. Jangan lupa lengkapi wawasan anda melalui pemikiran ahli matematika Perancis Jacques Hadamard, Henri Poincare. Lanjutkan dengan menelusuri pengakuan ahli fisika lain yang memiliki visi Platonik, Henirich Herzt, orang pertama yang menemukan dan mendeteksi gelombang radio dalam laboratorium. Hertz mengatakan bahwa : “Orang tidak dapat menghindar dari perasaan bahwa rumus-rumus matematis ini memiliki eksistensi independen milik mereka sendiri, dan mereka lebih bijaksana daripada para penemunya sekalipun.

Semakin unik lagi ilustrasi Richard Feynmann berikut ini : “Persoalan eksistensi adalah persoalan yang sangat menarik dan sulit. Jika anda mengerjakan matematika, yang secara sederhana menyelesaikan konsekwensi-konsekwensi dari berbagai asumsi, anda akan menemukan umpamanya sesuatu yang mengherankan jika anda menjumlahkan “pangkat tiga bilangan bulat”. 13=1, 23 = 8 atau 2x2x2, selanjutnya 33 = 27 atau 3x3x3. Jika anda menjumlahkan pangkat tiga dari bilangan-bilangan ini  1+8+27 maka hasilnya 36. Misteri ini adalah kudrat dari bilangan yang lain yaitu 6. Nah, bilangan ini adalah jumlah dari bilangan–bilangan bulat yang sama yakni 1+2+3…….. misteri berikutnya dari fakta ini muncul dibenak kita “Dimanakah itu, apakah itu, dimanakah ia berada, realitas apakah yang dimilikinya? Jadi pertautan perasaan memandang realitas melahirkan lompatan imajinasi kita bahwa realitas itu sudah ada sebelum kita. Semakin membingungkan lagi ketika realitas ganda dipertautkan dengan realitas alam semesta, nah dalam konteks inilah Fisika juga menghadapi kesulitan ganda.

Esensi Sains dan Regularitas alam semesta

Apakah sesungguhnya esensi sains? Sains membentangkan pola-pola dan regularitas-regularitas dalam alam dengan menemukan pemampatan-pemampatan algoritmik dalam observasi. Kemajuan dalam sains seringkali menantang ilmuwan memecahkan kode-kode kosmik, menggali dan menguak data mentah yang tersembunyi. Yah, sebagaimana kita mengerjakan teka teki silang, demikianlah sains fundamental. Semakin banyak petunjuk, semakin banyak temuan kearah pemecahan misteri alam semesta. Nah, disinilah kekuatan Rasio manusia diuji sebgai anugerah karunia  Tuhan, apakah manusia mau dan mampu menggunakan akal-fikiran yang dianugerahi Tuhan atau tidak? Kekuatan intelektual, rasionalitas adalah sebuah keniscayaan bagi usaha “membuka tabir rahasia alam semesta”. Sayang sekali manusia saat ini termasuk ummat Islam masih banyak yang jumud, takhayul, mistis, tidak rasional, tidak pakai akal sehat, terlalu ritualistik, agama formalistis. Akibatnya ummat semakin bodoh dan sulit menguak rahasia Tuhan, sulit menggunakan akal sehat dan fikiran atas karunia Tuhan. Ayat-ayat Tuhan yang “Kauniah dan Mutasyabihat” sesungguhnya memiliki makna dan arti yang mendalam. Ayat-ayat ini harus ditafsirkan dan difikirkan dalam kerangka analisa rasionalistik untuk menemukan hubungan  kausalitas maupun eksisting. Ayat-ayat Tuhan sebagaimana dalam keyakinan Muslim tentang “Cahaya” Nur atau Nurun ‘ala nuurin. Cahaya diatas cahaya, ayat ini hanya dapat difahami oleh mereka yang berilmu, rasional dan mampu memaknai rangkaian kode-kode kosmik dengan hukum-hukum fisika. Tuhan memang menghendaki manusia berfikir dan menggunakan kemampuan rasionalnya dalam memahami apa maksud Tuhan menciptakan alam semesta (Lihat Surah An-Nur : Al-Qur;anul Karim.)

Teori dentuman besar (Big Bang Theory) dan teori lain termasuk lompatan kosmik dan cahaya telah banyak membantu kita dan mendekatkan pengetahuan kita tentang lahirnya jagad raya. Time and Universe memang menjadi misteri paling menakjubkan khususnya bagi para ilmuwan dan mereka yang mencintai sains. Realitas fisik atau perasaan mental sebagimana diyakini kaum Platonik pada dasarnya telah ada diterangkan dalam keyakinan Muslim dan ayat-ayat Tuhan dalam firmanNya Al-Qur’anulkarim. Sayangnya, mayoritas ulama dan kaum muslimin cenderung lebih memilih ayat-ayat Tuhan yang mengatur hubungan moralitas dan janji-janji Tuhan, Pahala dan Dosa, pengertian sempit amal ibadah dan ritualistik yang lebih dipengaruhi budaya lokal yang paganistik dan bentuk baru berhalaisme. Inilah jebakan iman yang paling berbahaya sedang melanda ratusan juta kaum muslimin khususnya di bentangan benua Asia tempat dimana 1 milyar muslim memiliki hubungan kultural yang kuat dengan keyakinan pagan, politeistik, mistisime dan bentuk kesesatan lainnya. India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia dan beberapa belahan Afrika merupakan tempat dan pusat pertumbuhan muslim dengan karakter multi-kultural dan pola-pola keyakinan lokal yang unik. Namun, laporan UNDP  mengenai accelelerated of IPM ternyata 10 negara muslim mengalami percepatan yang fantastik termasuk didalamnya Indonesia, Tunisia, Saudi Arabia, Oman dan lainnya. Namun IPM Indonesia tahun 2010 masih pada urutan 108 naik sedikit dari tahun sebelumnya 112 dari 150 negara.

Manusia: Pendekatan Evolusioner dan Biologi genetic

Perdebatan darwinisme sudah dan masih saja terjadi baik dalam ranah darwinisme biologi, sosial, politik dan persinggungannya dengan ideologi kontemporer. Padahal otak manusia atau otak kita telah tersusun dalam respon terhadap tekanan-tekanan lingkungan, contohnya kemampuan berburu, memangsa dan menghindar dari pemangsa, mengelak dari benda jatuh dan seterusnya. Lalu apa dan bagaimana hubungan impuls otak dan perkembangannya terhadap penemuan hukum-hukum elektromagnetik dan struktur atom? Pertanyaannya bagaimanakah kekuatan evolusi otak manusia? Bagaimana hubungannya dengan konstruksi berfikir? Kontribusi pendidikan SD, SMP, SMA, PT dan berapa lama waktu dibutuhkan agar seseorang memiliki kemampuan mencapai kualitas abstrak? Kualitas pemahaman dan penguasaan teoritis rahasia alam semesta? Sejumlah penelitian melaporkan bahwa dibutuhkan waktu minimal 15 tahun bagi seorang mahasiswa cerdas untuk mencapai penangkapan yang memadai terhadap matematika dan sains agar memberi kontribusi nyata bagi riset fundamental. Secara kasuistik juga ditemukan anak-anak atau mahasiswa cerdas (student outstanding) pria dan wanita berusia duapuluhan dengan kemampuan menakjubkan, lebih matang lagi di usia tigapuluhan.

Newton, pada usia duapuluh empat tahun ketika menemukan hukum gravitasi. Dirac masih seorang mahasiswa doktoral ketika dia merumuskan persamaan gelombang relativistiknya yang membawa kita kepada penemuan anti-materi. Einstein pada usia duapuluh enam ketika   dia bersama-sama meletakkan teori relativitas khusus, fondasi-fondasi mekanika statistik, dan efek foto listrik dalam beberapa bulan gemilang dari aktivitas kreatifnya. Habibie pada usia 24 tahun menemukan teori Crack di Jerman. Memang ada kontradiksi dan pertentangan dari ilmuwan tua karena terkait wibawa, legitimasi dan menurunnya kontribusi kemampuan mereka. Kombinasi kemampuan otak, kemajuan pendidikan dan kreativitas sangat tergantung pada diri sang ilmuwan. Sebab itulah “pintu kesempatan” khususnya kesempatan emas  sangat singkat dan berangsur-angsur berkurang setelah seseorang berusia empatpuluh tahunan, khususnya kesempatan untuk membentuk kontribusi nyata terhadap invensi teori-teori baru rahasia alam semesta. Singkatnya, anak-anak kita sekarang harus dididik, dibimbing dan dilatih untuk menguasai teori-teori fisika, matematika dan rahasia jagad raya sebelum mereka berusia duapuluhan tahun.

Usia 1 sampai 5 tahun mereka sudah harus menguasai fiska dasar, bahasa dan matematika dasar dengan baik, Usia 6 sampai 12 tahun harus menguasai teori fisika Newton, Einstein, Immanuel Kant, Galileo, Neils Bohr dan ilmuwan lainnya, menguasai bahasa tingkat tinggi, matematika statistik, matematika lanjutan. Usia 13 sampai 20 mereka sudah harus mampu membuat sintesa dan invensi baru dan fondasi teori atau anti-thesa teori sebelumnya dibidang Fisika, Matematika dan keterkaitannya. Pada usia 20 sampai 30 mereka berkontribusi secara nyata baik dalam teori maupun pengembangan rahasia fisika, matematika yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, industrialisasi, teknologi dan inovasi lainnya.

Pertanyaannya bagaimana dengan pendidikan di Indonesia? Bagaimana dengan pendidikan kaum muslimin? Jawaban pertama pendidikan di Indonesia masih tertinggal sangat jauh baik dalam kualitas maupun dalam kesungguhan komitmen pemerintah dan masyarakat. Strategi pendidikan kita salah, orientasi salah, kebijakan salah, target sangat rendah dan distorsi. Pendidikan kita gagal menjawab tantangan teknologi, pembangunan, inovasi dan industri, kompetisi dan kemajuan bangsa.Kebijakan kita tidak konsisten, berubah dan terus menerus dirubah sesuai selera menteri atau pergantian penguasa.

Proporsi anggaran (APBN) kecil dan sangat rendah selama 63 tahun merdeka, perubahan agak membaik baru terjadi tahun 2009 APBN 20 % Pendidikan. Jadi kini diperlukan Skema Pro Education Budget artinya proporsi anggaran APBN dan APBN yang peduli dan memihak pada pendidikan rakyat. Jawaban kedua tentang ummat Islam termasuk Umat Islam Indonesia sangat tertinggal, jauh tertinggal dari umat lain khususnya kaum Nasrani Katholik maupun Protestan di Amerika, Eropa (Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Israel, Italia, Spanyol, Rusia dan blok benua lainnya). Lembaga Pendidikan Islam kebanyakan terbatas pada studi agama dan masih memandang secara dikotomis antara Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum. Ummat Islam terjebak hanya belajar Agama secara tradisional, padahal tantangan global mengharuskan setiap orang sadar IPTEK, tolerans, progresif dan modern, holistik dan menguasai IPTEK, rasional dan selalu membangun kerangka logika memandang realitas empirik alam semesta, kehidupan sosial, ekonomi dan kultural. Lalu bagaimana solusinya ?

Ummat Islam harus merubah cara pandang secara ekstrim kearah lebih moderat dan rasional dengan mendorong anak-anak muslim mempelajari IPTEK secara serius dan istiqomah. Menguasai IPTEK wajib bahkan fardu ‘ain bagi setiap muslim. Pendidikan dirubah dan diperbaiki secara ekstrim, anak-anak wajib belajar dan diajarkan IPTEK sejak usia 3 tahun hingga remaja, kemudian menguasai dan melakukan invensi. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kini sedang tumbuh berkembnag bagaikan jamur di musim hujan. Namun sejauh studi dan evaluasi saya PAUD tidak melakukan inovasi, metode dan materi ssama dengan TK, hanya bermain, berbaris, menangis  lalu anak-anak pulang. Paradigma PAUD harus diperbaiki dengan mengembangkan benchmarking dan best practice sebagai contoh.

Sekolah Dasar Islam j (Madras Ibtida’iyah) juga secara umum masih tertinggal. Data agregat melaporkan bahwa pusat-pusat keunggulan dan prestasi masih didominasi sekolah SD swasta Katholik, kemudian SDN binaan Diknas di pusat kota. Namun factor input pada dasarnya sama potensial untuk unggul, namun belum cukup jumlah guru-guru yang baik dan berkualitas. Variabel ekonomi juga berpengaruh dimana SD Islam dipelosok dan pedesaan relative dipenuhi oleh siswa-siswi dengan kondisi ekonomi kurang mampu atau golongan bawah. SMP Islam (Madrasah Tsanawiyah) juga menghadapi masalah yang sama.

Tuntutan kualitas yang terus menerus semakin meningkat memaksa seluruh institusi pendidikan Islam harus menyesuaikan diri dan bersaing secara ketat, suka atau tidak suka. Pilihan realistis adalah memperbaiki secara cepat dan tepat seluruh system, kualitas guru, standadisasi kurikulum, visi, misi hingga jaringan dan efektifitas belajar maupun alokasi anggaran. SMA Islam (Madrasah Aliyah) agar bervariasi karena kini ada fenomena munculnya sekolah Islam (MAN) unggulan seperti Insan Cendekia Madani, Smart Ekselensia dan beberapa Sekolah Unggul lainnya. Namun jumlah mereka terlalu sedikit sehingga kenyetaan agregat melaporkan bahwa kualitas MA Islam masih tertinggal dan belum kompetitif. Beberpa ajang lomba nasional dan internasional masih didominasi sekolah Katholik dan Sekolah negeri unggulan.

Agama harus menjadi kekuatan nilai dalam keluarga bukan ranah pengetahuan saja, namun nilai-nilai, motivasi dasar dari pengetahuan kita tentang ayat-ayat Tuhan mendorong setiap anak untuk menyukai Fisika, Matematika, Kimia, Biologi dan Bahasa asing secara baik, professional dan berkualitas. Sains Fisika dan Matematika juga bidang lainnya tidak cukup sekedar dicintai, namun harus dikuasai, dimengerti, diaplikasi, diuji, dikompetisi dan di-invensi. Ini semua hanya mungkin jika ada inovasi serius dan fokus melalui penyelenggaraan pendidikan berkualitas dan inovatif, kreatif serta inventif.

Sejauh ini selama 20 tahun saya dan isteri telah bergelut dengan dunia pendidikan dan membimbing anak-anak meraih keunggulan, mulai dari Lombok barat (Rembiga) selama 2 tahun kemudian kami pindah ke Ende-Flores-NTT  di Pesantren tarbiyatul Islamiayah selama 2 tahun, kemudia kami pindah ke Madandan Toraja setahun dan di Ubud Bali setahun. Selanjutnya kami bergabung dengan SMP dan SMA Yayasan Al-Azhar 1 Jakarta selama 4 tahun, selanjutnya selama 2 tahun dengan Perguruan Bina Insani dan kami menetap di Bogor dan mendirikan Children Library School dan Home Schooling for Science and Art sejak tahun 1999 hingga kini sudah 11 tahun.

Kami menulis dan mempublikasikan berbagai buku, esaay dan artikel imiah mengenai pendidikan dan  tema lainnya. Kami sangat senang berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Terima kasih.

*) Iwan Febriand Vegan, adalah peneliti dan penulis multi-disipliner bidang teknologi, pertahanan-keamanan dan intelijen, ekonomi, industry, arsitektur, tata pemerintahan, politik dan seni. Berbagai artikel juga dibidang sektoral terkait isu kesehatan, pertambangan, pertanian, pendidikan, music, film dan strategi bagi perbaikan tatanan social-ekonomi masyarakat.  Tinggal di Bogor bersama Istri Rini Nurulita dan kedua putrinya Cholila dan Cholida. Dapat dihubungi pada Hp. 081317942168 dan email: troisebien@yahoo.com atau wsi-corplink@yahoo.com. Silahkan buka web kami www.worldprosperousnow.tk dan dilengkapi dengan blog virtualbright.wordpress.com


[1] Materi ini pernah dipresentasikan pada Pelatihan Metodologi Penelitian Siswa Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 9 Bogor dan Siswa Unggulan Home Schooling  for Science and Art di Bogor tahun 2010.

About bintcorplink

best today best tomorrow best forever
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Kekuatan Rasio Manusia (Edisi 1)

  1. skullhead says:

    Nice to meet you, Mr. Iwan.
    Manusia tidak pernah menciptakan apapun. Yang dilakukan adalah menggunakan akalnya untuk menemukan suatu hukum yang berlaku di alam semesta ini, atau mengkombinasikan materi-materi yang terdapat di alam menjadi suatu objek yang sebelumnya (dianggap) tidak ada (padahal sebenarnya, sudah ada, namun hanya saja manusia sebelumnya belum menemukan caranya). Materi, cara, maupun hasil (product) sebenarnya sudah tersedia di alam. Apakah seperti itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s