HUTAN KOTA

STRATEGI PEMBANGUNAN HUTAN KOTA BOGOR DALAM RANGKA MEWUJUDKAN BOGOR GREEN CITY

KARYA TULIS INI BERHASIL JUARA III DALAM

LOMBA MENULIS ESSAY (LME)

UNI KONSERVASI FAUNA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR TAHUN 2010

Pendahuluan

Dalam sejarah kehidupan ummat manusia di planet bumi, hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara manusia dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial sangat erat dan terpadu, saling melengkapi dan saling membutuhkan. Hubungan manusia dengan lingkungannya  melahirkan apa yang disebut dengan rantai kehidupan. Perkembangan rantai kehidupan dan ekosistem sejak  dahulu lebih cenderung kepada gerakan konservasi atau usaha-usaha pelestarian.

Namun dalam perjalanan sejarah kontemporer manusia terjadi perkembangan kebutuhan dan keinginan. Ketika keinginan (wanted) lebih dominan daripada kebutuhan (needed) maka terjadi eksploitasi terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Pertarungan antara kebutuhan dan keinginan inilah yang melahirkan sejumlah masalah dalam mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Hal ini tercermin pada pertarungan antara usaha pelestarian lingkungan  dan pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan ekonomi.

Dalam kaitan dengan pembangunan hutan kota ada kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau (RTH) untuk wilayah kota Bogor dan sekitarnya secara seimbang untuk jangka waktu panjang. Kebutuhan ini sesungguhnya bukanlah semata-mata hanya  pencerminan kaum pencinta lingkungan atau sebagian kecil warga masyarakat yang tergabung dalam perkumpulan pencinta alam dan lingkungan melainkan telah menjadi kebutuhan umum dan harapan bersama sebagai warga kota Bogor. Kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau merupakan kebutuhan yang bersifat rasional dan manusiawi, karena manusia secara lahiriah dan batiniah sangat membutuhkan kehadiran makhluk hidup lain disekelilingnya baik itu tanaman dan binatang serta komponen pelengkap ekosistem lainnya.

Perkembangan harapan dan kebutuhan masyarakat juga didasarkan pada kecenderungan naluriah dan alamiah bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat diiringi dengan perkembangan kota yang eksesif dan ekspansif cenderung semakin cepat dan mengalahkan kepentingan pelestarian lingkungan. Jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung  tanpa pengawasan dan perbaikan maka dimasa depan luas areal ruang terbuka hijau kota Bogor akan semakin berkurang. Dampak selanjutnya adalah polusi meningkat, kelembaban udara semakin panas, kemacetan semakin meningkat dan masalah kriminalitas semakin marak dalam masyarakat.

Kerinduan hadirnya hutan kota yang sejuk, nyaman, Indah dan lestari sangat bermanfaat bagi kegiatan rekreasi keluarga dan masyarakat. Bahkan jika hutan kota dikelola dengan baik dapat menjadi daerah tujuan wisata alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi penciptaan lapangan kerja, menambah pendapatan bagi pemerintah daerah melalui pajak, serta berbagai bentuk penerimaan langsung dari kegiatan wisata seperti jasa perhotelan, restaurant, pemandu wisata, pedagang suvenir dan cenderamata.

Pertanyaannya adalah apakah rencana pembangunan hutan kota Bogor telah dilaksanakan secara baik dan benar? Selanjutnya ruang terbuka hijau (RTH) yang tersedia saat ini apakah telah cukup untuk menjaga keseimbangan upaya pelestarian (konservasi) lingkungan dan upaya perkembangan kota kearah kepentingan komersil, niaga dan tata pemerintahan? Sejumlah pertanyaan inilah yang  selanjutnya akan saya bahas pada bagian pembahasan.

Tinjauan Pustaka

Hutan dan kota merupakan dua kata yang memiliki makna yang berbeda jika dipisahkan satu persatu. Hutan mengacu pada pengertian bagian dari alam dan lingkungan dalam kehidupan manusia yang mangandung makna pelestarian (konservasi) atau setidak-tidaknya cenderung untuk dilestariakan daripada dimanfaatkan untuk tujuan komersial. Sedangkan Kota menuruf Tarsoen Waryono,[1] seorang dosen Geografi pada MIPA Universitas Indonesia menyatakan bahwa Kota mengacu pada sejarah perkembangan manusia secara politik, tata pemerintahan dan ekonomi dimana kota berasal dari desa yang telah berkembang menjadi kota kecil selanjutnya berkembang menjadi kota besar dan seterusnya. Jadi maknanya bersifat ekspansif dan eksesif. Hal ini sesuai dengan pandangan ahli sosiologi perkotaan Lewis Munford dalam Rahardjo (1983) bahwa sejarah kota berasal dari kota eliopolis (kota baru) kemudian berkembang menjadi metropolis (kota induk), kemudian menjadi megapolis (kota besar) kemudian menjadi tiranopolis (kota kejam) dan akhirnya menjadi necropolis (kota mati)[2]

Bank Dunia[3] pada tahun 1980-an membuat standard untuk mengenali kota dari aspek populasi dan pemukiman kedalam 3 kelompok penting yakni pertama, urban yakni pemukiman dengan jumlah populasi lebih dari 20.000 jiwa, kedua, cities yakni pemukiman dengan jumlah penduduk diatas 100.000 jiwa, dan ketiga, big cities yakni apabila jumlah penduduk lebih dari 5 juta jiwa. Berdasarkan fungsi dan tujuan pembangunan kota dapat kita perhatikan dari aspek ekonomi dan sosial. Menurut Hat and Reiss (1959) dalam Zoer’aini Djamal Irwan, bahwa kehadiran kota adalah untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kegiatan ekonomi penduduk yang selalu berkembang yang mendukung dan melayani faktor-faktor kota yang saling mempengaruhi sebagai berikut; pertama; kota sebagai pusat berbagai kegiatan untuk daerah sekitarnya. Kota-kota itu cenderung merupakan ruang produktif yang luas. kedua; kota sebagai tempat transportasi dan merupakan “break of bulk”. Transportasi kota merupakan pelayanan sepanjang rute transportasi, sehingga daerah-daerah yang terpencilpun, dapat dicapai dengan mudah karena letak jalur transportasi kota yang strategis. ketiga; kota sebagai titik konsentrasi pelayanan khusus[4].

Mengacu pada keterangan diatas, maka kota Bogor dapat dikategorikan sebagai kota “cities” karena memiliki jumlah penduduk sekitar 1 juta jiwa, bahkan jika digabung dengan penduduk kabupaten Bogor jumlah mencapai 6 juta jiwa, masuk kategori “big cities”. Masalah yang dihadapi kota Bogor saat ini meliputi masalah transportasi kota yang masih semrawut dan sering macet oleh angkutan kota, kemudian perencanaan pengembangan kota yang kurang progresif selama beberapa dekade ini. Masalah lain terkait dengan visi kearah kota jasa dimana pembangunan kota Bogor  seharusnya saling menunjang antara pembangunan hotel, transportasi kota yang layak seperti taksi, restaurant, gallery seni, pusat kerajinan tangan, tujuan wisata alam, budaya dan sarana rekreasi lainnya. Dan hal paling penting diperhatikan oleh pemerintah kota Bogor adalah upaya melestarikan RTH hutan kota bahkan mengembangkannya dengan memanfaatkan lahan-lahan terlantar dipinggir jalan menjadi taman bunga, lahan kosong disekitar gardu listrik, serta hutan kota diwilayah industri.

Kota Bogor diapit oleh dua gunung yakni gunung Gede – Pangrango dan gunung Salak. Secara administratif  termasuk dalam propinsi Jawa barat, berjarak 50 km dari Jakarta. Kota seluas 11.850 Ha ini dihuni 980.000 jiwa tersebar di 6 kecamatan dan 68 kelurahan. Luas lahan pemukiman sangat dominan yakni 70% tata guna lahan di kota Bogor. Dengan ketinggian 190-350 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 25oC. Curah hujan rata-rata kota Bogor adalah 4000 mm per tahun. Dua sungainya yang terkenal yaitu sungai Ciliwung dan sungai Cisadane. Pada tahun 2005 kota Bogor bergabung sebagai anggota International Councils for Local Environment Initiative (ICLEI), dengan komitmen mengikat untuk mengurangi gas rumah kaca dan bentuk kepedulian lain pada lingkungan.[5]

Keunggulan kota Bogor adalah memiliki potensi wisata alam dan ilmiah diantaranya, Kebun Raya Bogor seluas 87 Ha, Istana Kepresidenan sebagai obyek wisata sejarah dan budaya seluas 28,8 Ha, Museum Etno Botani sebagai obyek wisata ilmiah seluas 1.600 m2. Museum Zoology sebagai obyek wisata ilmiah 1.500 m2, Taman wisata Situ Gede kawasan hutan kota bernuansa pedesaan dan perkmapungan air danau. Selain itu masih terdapat ratusan tempat dan lokasi wisata alam yang indah dan nyaman bagi kegiatan rekreasi maupun ilmu pengetahuan.[6]

Menurut International United Conservation Natural (IUCN)[7] dalam rangka pengembangan sebuah hutan kota diperlukan langkah-langkah  penelitian dan landasan ilmiah yang terkait dengan jenis vegetasi tetap serta kesesuaiannya dengan berbagai aspek topografi, hidrologi, lingkungan, ekologi dan sejarah keberadaan setiap tempat dan wilayah, atau aspek toponimi atau penamaan bentuk rupabumi.

Dalam pengembangan hutan kota juga diperlukan adanya zonasi yang ketat dan tepat, misalnya zonasi untuk wilayah tertentu lebih cocok untuk tanaman tertentu seperti pohon Jati ( Tectona grandis), meranti (Shorea spp), kopi (Cofea spp), karet (Hevea brasiliensis) dan beberapa jenis lainnya. Namun tidak salah juga apabila Hutan Kota Bogor mengembangkan pola seperti misi Kebun Raya Bogor yakni upaya pelestarian berbagai jenis dan spesies tanaman tropis dari seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian alangkah indahnya jika visi ini juga dikembangkan tidak hanya terbatas  di Kebu Raya Bogor (Bogor Botanical Garden). Dengan demikian dibutuhkan zonasi yang khususnya mengembangbiakkan jenis tanaman yang berasal dari daerah lain Indonesia, misalnya dari Indonesia Timur seperti cengkeh (Zizigium aromaticum), pala (Myristica fragrans), matoa (Pometia sp), kayu hitam (Dyopiros celebica), cendana (Santalum album) serta ratusan jenis lainnya yang menjadi keistimewaan kawasan Indonesia Timur.

Berdasarkan teori bioregion, pengembangan hutan kota juga mengacu pada biogeografi yang disesuaikan dengan jenis tanaman tropis, cagar-taman buah, serta tumbuhan maupun bunga-bungaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kota Bogor. Jika dikelompokkan secara umum setidak-tidaknya harus dikembangkan beberapa keragaman kekayaan jenis dan spesies tanaman diantaranya kawasan budidaya tanaman hutan kota,  tumbuhan cagar buah, agroforestry kearah tanaman obat-obatan dan hortikultura,  terakhir kawasan tanaman hias perkotaan.

Menurut Nancy Lee Peluso[8] dalam bukunya yang berjudul Hutan Kaya, Rakyat Melarat mengisahkan tentang degradasi hutan di pulau Jawa, khususnya bagaimana penguasaan sumberdaya dan perlawanan di Jawa. Peluso menekankan bahwa hutan di Indonesia telah mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan khususnya hutan di pulau Jawa. Selanjutnya Peluso mengingatkan bahwa rimbawan, pencinta lingkungan dan para pihak yang memiliki kepedulian pada pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam hendaklah memiliki kekuatan jaringan, memahami kebijakan pemerintah, memahami hukum, strategi perjuangan dan konsisten berjuang demi konservasi alam dan lingkungan.

Menurut Prof.Dr.Otto Soemarwoto[9], dalam bukunya yang berjudul Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan menyatakan bahwa proses pembangunan hendaklah senantiasa memperhatikan daya dukung lingkungan, dampak terhadap lingkungan, kepentingan generasi sekarang dan akan datang. Gannguan terhadap ekologi lingkungan hidup akan mengganggu dan mangancam kelangsungan hidup manusia. Pada bagian lain beliau menyarankan agar setiap perencanaan pembangunan hendaklah memperhatikan analisis dampak lingkungan. Berdasarkan pemikiran dan gagasan beliaulah dikemudian hari pemerintah Indonesia membentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

Pembahasan

Sesuai dengan judul essay ini penulis mengusulkan beberapa gagasan untuk mewujudkan Bogor sebagai Green City (Kota Hijau) yakni; pertama, memastikan jenis vegetasi tetap sesuai dengan fungsi dan manfaat dari setiap jenis tanaman yang harus ada, kedua, penataan dan penentuan serta perawatan hutan kota harus konsisten dikembangkan oleh pemerintah daerah bersama warga masyarakat Bogor. ketiga, penampilan pemerintah daerah atau pemerintah kota, warga masyarakat dan semua pihak terkait harus mencerminkan keasrian, keharmonisan dan kecintaan pada hutan kota, khususnya tanaman dan bunga-bunga yang ada. Sesuai dengan ungkapan love flower love people, mencintai bunga mencintai sesama manusia. Esensinya adalah mencintai bunga penting karena bunga merupakan lambang kehidupan, kedamaian dan kasih sayang. Dengan menanamkan kecintaan kita pada bunga  akan mempengaruhi rasa cinta kita pada sesama manusia.

Selanjutnya ada beberapa komponen pelengkap dari sebuah hutan kota yang lengkap dan seharusnya diperhatikan oleh pemerintah kota diantaranya perlindungan terhadap tanah dan mempertahankan luas ruang terbuka hijau, pengendalian sumberdaya air, Sangtuari satwa, penangkaran dan pembinaan sumberdaya plasma nutfah, keindahan dan kesegaran yang memberikan manfaat bagi kesehatan lingkungan, kebersihan kota mencakup jalan, trotoar, taman kota, taman bermain, taman peristirahatan, tersedianya sarana olah raga alam yang tidak komersial, tersedianya tempat untuk rekreasi dan wisata masyarakat lokal maupun bagi pengunjung yang berasal dari daerah lain, tersedianya sarana latihan, pendidikan dan penelitian, tersedianya lokasi dan lahan-lahan percontohan  dan hal paling penting adanya visi kepemimpinan walikota kearah pengembangan hutan kota lestari dan indah untuk mewujudkan Bogor sebagai Green City.

Dalam perencanaan dan pelaksanaan Hutan Kota Bogor hendaknya memperhatikan Rancangan Tata Ruang wilayah, tata letak dan zonasi sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Perencanaan yang baik harus diiringi dengan pelaksanaan yang baik dan tepat. Selanjutnya  dilakukan pengawasan dan penindakan bagi pihak-pihak yang menyalahgunakan fungsi dan peruntukan lahan ruang terbuka hijau.

Sebagaimana telah penulis jelaskan pada tinjauan pustaka selain zonasi juga diperlukan kerterkaitan antara suatu kawasan dengan kawasan lainnya sehingga mencerminkan suatu makna dan arti filosofis yang tinggi bagi imajinasi manusia atau warga. Karena itulah penanganan hutan kota Bogor juga memerlukan pendekatan kreativitas yang tinggi disamping sekedar komitmen politik dari pemerintah kota. Birokrasi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan hutan Kota Bogor harus memiliki kreativitas dan daya inovasi yang tinggi sehingga impiannya kedepan dalam membangun Green City sesuai dengan kemampuan dan tindakannya. Jika tidak maka sangat sulit membayangkan terwujudnya sebuah Green City di Kota Bogor.

Pada saat ini terjadi pertarungan kepentingan antara kebutuhan pembangunan proyek infrastruktur khususnya jalan tol, jalan raya, jalan baru, jembatan dan jalan lainnya disatu sisi, dengan kebutuhan untuk melakukan pelestarian hutan dan kawasan tertentu yang tidak mengalami perubahan fungsi dan tata ruang secara ektrim dan dramatis. Ada asumsi yang kurang tepat dari penyelenggara pembangunan dan pemerintahan kota Bogor bahwa seolah-olah satu-satunya cara untuk mengatasi kemacetan transportasi kota Bogor adalah dengan terus menerus menambah pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan. Padahal pandangan dan paradigma ini salah, buktinya beberapa kota-kota besar dunia yang memiliki infrastruktur jalan dan jembatan yang lengkap, lebar dan panjang masih saja dihantui kemacetan. Sedangkan negara-negara yang bebas kemacetan ternyata karena memberlakukan persyaratan yang berat dan ketat dalam kepemilikan kendaraan khususnya mobil. Contohnya Swiss, Luxemburg, Swedia, Norwegia, Inggris, Singapura. Dengan persyaratan yang sangat berat akan mendorong masyarakatnya menggunakan angkutan umum, karena memiliki mobil pribadi sangat mewah, boros dan mahal. Sebaliknya di Indonesia, khususnya kota Bogor faktanya berbeda setiap warga yang ingin memiliki mobil sangat mudah persyaratannya. Akibatnya, banyak orang yang dapat memiliki mobil lebih dari satu bahkan lebih dari dua padahal tidak sesuai dengan keperluan dan kebutuhannya.

Jika pemerintah kota Bogor konsisten ingin mewujudkan kota Bogor sebagai Green City, maka salah satu komponen penting yang harus diperhatikan  adalah melakukan pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, khususnya mobil pribadi disesuaikan dengan ruas jalan dan kebutuhan masyarakat. Kondisi ini akan menjamin terjadinya keseimbangan antara pembuangan emisi karbon (CO2) dengan produksi Oksigen (O2) yang diperlukan masyarakat setiap hari. Ketegasan pemerintah kota dapat dilihat melalui penertiban Peraturan daerah  (Perda) dan peraturan lainnya yang berorientasi pada upaya pelestarian hutan kota Bogor atau upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan lingkungan dan perkembangan kota, khususnya transportasi.

Manfaat dan fungsi utama hutan kota

Berdasarkan pandangan beberapa ahli ekologi, botani dan lansekap perkotaan termasuk Badan PBB urusan konservasi dan lingkungan, berikut ini beberapa manfaat dan fungsi utama hutan kota yang sangat besar artinya bagi manusia. Pertama; Pelestraian plasma nutfah artinya sebagai sumber bahan baku yang penting bagi kebutuhan pangan, sandang, papan dan obat-obatan. Bayangkanlah jika disetiap pinggir jalan dan gardu-gardu listrik jika ada lahan kosong maka kita tanami tanaman obat-obatan atau sayuran semusim maka akan memberikan manfaat langsung secara ekologi dan ekonomi. selain itu lahan kosong juga dapat digunakan sebagai tempat untuk mengumpulkan keanekaragaman hayati Indonesia. Gagasan ini sangat relevan dengan pemikiran Bapak Ir.Suswono, MA, Menteri Pertanian Republik Indonesia untuk mengembangkan food estate, local food dan food other than rice. Kebijakan Mentan ini sangat tepat dan cocok dengan karakter wilayah maupun keragaman budaya, etnik bangsa Indonesia.

Kedua; Hutan kota dapat berfungsi sebagai penahan dan penyaring partikel padat dari udara. Melalui proses suspense oleh tajuk daun  dan pohon pada jenis vegetasi tertentu dapat menyerap kotoran udara dan debu yang terbuang dari kegiatan ekonomi, industry dan transportasi kota. Pada beberapa bunga seperti bunga Matahari, Kresen diyakini memiliki kemampuan menyerap partikel. Ketiga; Penyerap partikel timbal (Pb). Ada beberapa pohon yang mampu menyerap partikel timbal seperti dammar (Agathis Alba), mahoni (Swietenia Macrophylla), jamuju (Podocarpus imbricatus) dan pala (Myristica fragrans), asam landi (Pithecelobiumdulce), johar (Cassia siamea). Keempat; Menyerap debu semen khususnya dari kegiatan pembangunan dan industry. Kelima; Peredam kebisingan, melalui kemampuannya mengabsorbsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting pada pepohonan. Pola tanam dengan strata rapat dan tinggi akan mampu mengurangi kebisingan khususnya yang berasal dari bawah. Keenam; mengurangi bahaya hujan asam, melalui proses fisiologis tanaman menurut Smith akan terjadi proses gutasi bahan organic seperti glumatin dan gula, juga menghasilakn Ca, Na, Mg,K. Hujan asam mengandung H2SO4 atau HNO3. Ketika hujan turun maka akan membasahi daun selanjutnya H2SO4 akan bereaksi menghasilakn CaSO4 yang bersifat netral. Netralisasi Ph air hujan oleh tanaman membuat air hujan tidak berbahaya bagi lingkungan.

Ketujuh; Penyerap Karbon-monoksida (CO), beberapa jenis pohon dan tanaman tertentu memiliki manfaat luar biasa bagi ekosistem seperti pohon Mindi (Azadirachta Indica sp) mulai dari akar sebagai pesticide organic, kulit kayu dan buah sebagai bahan baku obat-obatan ayurvedia, ranting dan dahan yang kering sebagai mosquitoes-obat nyamuk, tentu saja pohonnya yang rindang besar seperti mahoni berguna sebagai pohon pelindung. Ada satu lagi fungsi utama yang kedepan; Penyerap Karbon-dioksida (CO2) dan Penghasil Oksigen (O2). Hutan secara umum dikenal sebagai penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fito-plankton, ganggang dan rumput laut di Samudera. Cahaya matahari yang memancar di kota sepanjang hari akan dimanfaat oleh hutan kota dalam fotosintesis yang berfungsi untuk mmengubah gas CO2 dari H2O menjadi Karbohidrat dan Oksigen (O2). Proses ini sangat berguna bagi manusia, sebab bila konsentrasi CO2 meningkat akan beracun bagi manusia dan menyebabkan efek rumah kaca (green-house effect). Sebaliknya proses ini menghasilkan oksigen (O2) dan udara segar yang setiap hari sangat dibutuhkan manusia.

Kesimpulan

Pembangunan hutan kota Bogor menuju Green City mungkin terdengar seperti sebuah impian, namun jika impian ini konsisten dikembangkan melalui visi kepemimpinan wali kota dan mendapat dukungan penuh masyarakat serta seluruh pihak terkait khususnya dunia usaha, maka suatu saat kota Bogor benar-benar akan menjadi Green City. Fungsi dan manfaat hutan kota yang demikian besar artinya bagi manusia dan mencegah efek rumah kaca. Meskipun demikian kenyataan hari ini predikat yang kurang nyaman masih disandang kota Bogor yakni kota seribu angkot yang kebetulan dominan warna hijau, kota penuh kemacetan, kota penuh dengan bangunan pemukiman dan perumahan. Bogor sejatinya merupakan daerah tujuan wisata yang baik dan potensial tapi belum tertata secara  baik dan belum dikelola dengan professional.

Tantangan bagi pemerintah kota dan seluruh masyarakat kota Bogor hari ini  dan kedepan  adalah bagaimana menyadari pentingnya pelestraian lingkungan melalui pengembangan hutan kota Bogor, memelihara berbagai jenis pohon, bunga dan tanaman, sehingga dapat memberikan manfaat ekologis alam lingkungan yang indah dan sejuk. Selain itu hutan kota yang terkelola dengan baik juga dapat menjadi kawasan tujuan rekreasi yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan sebagai sumber penerimaan pendapatan pemerintah  kota Bogor.

Dapatkah hutan Kota Bogor menjadi Greeen City? Yakin pasti bisa, sekaranglah kesempatannya, inilah tantangannya. Mari wujudkan.

Terima kasih,

Cholida Firdaus Muhandasa

Daftar Pustaka

Djamal Irwan Zoer’aini, Prof.Dr. 1997: Tantangan Lingkungan dan Lansekap

Hutan Kota, CIDES,Jakarta.

Hari Sutjahya dan Gatut Susanto, 2008: Akankah Indonesia Tenggelam Akibat

Pemanasan Global, Penebar Swadaya,

Jakarta.

Rahardjo, Msc, 1983                           :  Perkembangan Kota dan Permasalahannya,

Bina Aksara, Jakarta.

Soemarwoto, Otto, Prof.Dr, 1983      :  Ekologi Lingkungan Hidup dan

Pembangunan,Djambatan, Jakarta.

Website Google

Yayasan Hutan Kota Indonesia, Website diakses mulai tanggal 1hingga 13 September 2010

Majalah Tempo 2001-2010, Majalah Forest Watch Indonesia 2008, Majalah Walhi 2009

Penulis

Iwan Febryan Vegan


[1] Tarsoen waryono, makalah Seminar ” Mahkota Hijau “ Hutan Kota Universitas Indonesia, di kampus UI-Depok 2009.

[2] Lewis Munford, dalam Rahardjo (1983): Perkembangan Kota dan Permasalahannya, Bina Aksara, Jakarta.

[3] World Bank Journal, 1983

[4] ibid, hlm 21

[5] Gatut Susanta dan Hari Sutjahyo, Akankah Indonesia tenggelam akibat Pemanasan Global? Penebar Swadaya, Jakarta, 2007

[6] Bogor Tourism and Invesment City, Profil. Pemerintah Kota Bogor, 2008

[7] IUCN, Journal tahunan 2008.

[8] Nancy Lee Peluso, Hutan Kaya, Rakyat Melarat, Konphalindo, Insist Press, Yogyakarta, 2006.

[9] Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta, 1983

About bintcorplink

best today best tomorrow best forever
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to HUTAN KOTA

  1. ahmad rizal says:

    Saya mencopy tulisan yang baik ini untuk bahan pustaka riset hutan kota. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s