Kekuatan Rasio Manusia (Bagian Pertama)

KEKUATAN RASIO MANUSIA

Iwan Febriyanto Vegan *)

Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh, Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta,

Agama dan ilmu pengetahuan tanpa seni adalah kaku, …………….. (IFV, 2010)

Dalam perjalanan sejarah peradaban dan kebudayaan manusia, peranan ilmu pengetahuan bagi perubahan dan kemajuan hidup manusia sangat besar artinya. Namun ilmu pengetahuan itu sendiri mengalami tahap perkembangan dan inovasi disesuaikan dengan lompatan kebutuhan dan kemajuan intelektualitas manusia. Rahasia paling takjub adalah kemampuan manusia dalam menguak alam semesta dan hakekat penciptaan dirinya dan seluruh kehidupan alam disekitarnya. Pertanyaannya bagaimana sesungguhnya penciptaan itu dimulai? Bagaimanakah relevansi sejumlah teori-teori fisika, matematika dan filsafat dalam menuntun kita mengenali dan mengetahui penciptaan alam semesta? Sejumlah pertanyaan fundamental masih berderet tiada habisnya.

Baiklah, mari kita mulai dengan mencoba memahami diri kita sebagai sentral antroposentrik dalam konteks manusia dianugerahi Tuhan akal, fikiran dan kemampuan berfikir mengenai segala sesuatu mengenai dirinya dan alam semesta. Dapat dibayangkan jika homo sapiensis (manusia) ini jika tanpa dilengkapi kemampuan berfikir (otak-akal) maka diyakini tidak ada perbedaan signifikan dengan binatang pada umumnya. Penting diingat bahwa “almost people its never make freedom they have, for example freedom of thought, as compensation they need freedom of expression, freedom of protest. Padahal esensi penciptaan akal budi oleh Tuhan agar kita menggunakan anugerah akal untuk berfikir dan berfikir.

Rasio pada Manusia

Rasio (akal sehat), adalah fikiran-fikiran yang masuk akal sehat dan dapat diterima menurut ukuran logika secara umum. Logika sendiri setidaknya dikenal sebagai cara manusia membuat konstruksi fikiran dan argumentasi. Ada 4 macam logika yang lazim digunakan manusia untuk memperoleh konklusi atas sebuah fenomena alam maupun sosial.

Pertama; Logika Deduktif adalah logika standar yang paling umum digunakan manusia dalam mengembangkan argumentasi, contohnya  “Seekor anjing adalah seekor anjing, segala sesuatu adalah anjing dan bukan anjing” Kesimpulannya seekor anjing adalah bukan anjing. Logika ini dibangun atas dasar premis atau asumsi. Semua  perawan adalah perempuan, Marcelina adalah perawan, Oleh karena itu  Marcelina adalah perempuan.

Bagaimanakah konteks logika deduktif ini dengan perkembangan matematika dan fisika? Mari kita perhatikan Aksioma Euclides yang terkait dengan perkembangan Geometri dikemudian hari. Ada 5 aksioma Eucledean yang terkenal meskipun tidak semuanya benar. Aksioma pertama ;  “Melalui setiap dua titik terdapat satu garis lurus unik” aksioma ini dikemudian hari melahirkan teorema geometri dan dalil Phytagoras. Kita lompat pada aksioma kelima; “Melalui setiap titik menjadi mungkin menarik garis yang sejajar dengan garis lain yang ada”.  Aksioma lain dari euclidean menyatakan bahwa “Ruang dibengkokan oleh gaya berat”. Aksioma ini dikemudian hari terbukti salah, sehingga melahirkan Geometri Non Euclidean.

Kedua; Logika Induktif adalah logika yang dibangun dari serangkaian fakta-fakta/asumsi-asumsi yang ada dan sampai pada konklusi dari fakta dan asumsi tersebut, tetapi ia berlaku demikian adalah sebagai proses generalisasi, bukan argument berantai. Perhatikan contoh berikut ini : “ Matahari akan terbit besok pagi. Pernyataan ini didasarkan pada fakta bahwa matahari telah terbit dengan setia dan teratur setiap pagi sejauh menurut pengalaman kita. Contoh lain : Bila saya melepaskan sebuah benda berat dari suatu ketinggian, saya meyakini dia akan jatuh atas dasar pengalaman saya dengan dorongan benda berat. Mari kita simak contoh berikutnya, “pernyataan A : Suasana , pernyataan B : Keremangan waktu. Dari pernyataan ini dapat diperoleh argumentasi bahwa A: terjadi sedangkan B tidak terjadi. Artinya tidak ada hubungan keniscayaan antara logis A dan logis B.  Berikut ini kita kembali pada Hukum Phytagoras. Disinilah kekuatan dalil Phytagoras yang menyatakan bahwa “Kuadrat sisi miring sama dengan penjumlahan kuadrat kedua sisinya “ Dalil ini memiliki kesamaan dengan hukum Euclides. Para ahli matematika dan fisika meyakini hukum ini akan bertahan dimasa depan.

Ketiga; Logika Quantum/kuantum. Dikenal juga logika lompatan atau lompatan akal dan fikiran. Logika kuantum umumnya dibangun oleh para ahli fisika dan matematika diera abad 19 hingga abad 20 sekarang ini. Hukum Newton I, II dan Newton III dianggap  sebagai peletak dasar bagi perkembangan logika kuantum, semacam ada misteri yang tak terjawab oleh para ahli lainnya, termasuk Newton hingga akhir hayatnya. Logika kuatum memang berbeda dengan teori Quantum dalam Fisika yang kemudian melahirkan temuan-temuan menakjubkan mengenai Atom dan subatomic yakni Quark. Elaborasi teori Quark melahirkan inovasi dalam fisika nuklir baik berhubungan dengan energi dan explosivitas maupun penggunaan nuklir dalam dunia medis dan keperluan lainnya, khususnya militer.

Logika Dekonstruktif, adalah logika yang dibangun dengan melakukan kontra-faktual artinya dua atau tiga fakta yang bertentangan dibenturkan sehingga melahirkan kesimpulan yang bisa benar  dan bisa juga salah. Contohnya; Pernyataan pertama :“ Penduduk Indonesia mayoritas muslim (sekitar 80% atau 200 juta jiwa). Ummat islam mengharamkan makan daging babi, namun menurut hasil penelitian PERC dan sejumlah lembaga Riset Global Indeks Korupsi Dunia melaporkan bahwa dari 120 negara paling korup yang diteliti di dunia ternyata Indonesia merupakan negara paling korup urutan 2 di dunia. Pernyataan kedua: Penduduk Jepang sekitar 60 juta jiwa menganut keyakinan Shinto dan penduduk Jepang sangat gemar makan daging babi karena menganggap daging babi halal dan nikmat. Menurut hasil penelitian PERC dan lembaga lainnya dari 120 negara yang diteliti  Jepang merupakan salah satu negara paling bersih dan tidak korup. Pernyataan ketiga (logika dekonstruktif) : “ Meskipun penduduk Indonesia mengharamkan makan daging babi, namun pemerintah Indonesia merupakan pemerintah korup/jahat (criminal/maling dan paling korup), sedangkan Jepang dimana penduduknya menghalalkan makan daging babi, namun pemerintahnya sangat jujur, tidak maling dan tidak korup.

Nah, demikilah beberapa model, contoh dan sebagian kecil dari cara-cara kita membangun konstruksi fikiran dan logika yang berdasar pada kekuatan rasio (akal sehat). Semakin rasional suatu masyarakat maka semakin besar peluangnya meraih akses ilmu pengetahuan modern yang dibangun diatas percobaan ilmiah yang masuk akal. Sebaliknya semakin tidak rasional (mistis) suatu masyarakat maka semakin tertinggallah dia dalam kompetisi ilmu pengetahuan modern dan pijakan ilmiah karena industrialisasi dan modernisasi dibangun atas dasar perhitungan dan perencanaan ilmiah yang dapat direncanakan, diukur dan diarahkan. Inovasi dan daya saing bangsa juga dibangun atas kekuatan rasio dan kombinasi inovasi teknik, social dan kujltural. strategi industrialisasi bangsa hanya mungkin jika kita memiliki pemimpin industrialis seperti Prof.Habibie, Prof.Johanes Surya, prof.Rhenald Kasali dan beberapa tokoh visioner lainya. Lihatlah Korea Selatan, dalam 30 tahun sejak 1967 sukses menjadi Negara maju, modern melalui industrialisasi. Daewoo, Samsung, Goldstar dan puluhan produk Korea kini menguasai pasar dunia. sebelumnya Jepang telah membuktikan diri, 1945 kalah PD II namun bangkit dan mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa tahun 1980 dalam kekuatan Ekonomi, Dagang dan Inovasi. Indonesia masih terlalu jauh dan sulit bangkit karena korupsi dan lemahnya kepemimpinan serta strategi pembangunan yang salah.

Dalam sejarah perkembangan peradaban Islam, dunia pernah dihentakkan oleh kemajuan dunia Islam yang luar biasa mulai abad 6 Masehi (610 Hijriyah) hingga abad 11 Masehi (1100 Hijriyah). Ribuan karya ilmiah dan inovasi ilmuwan muslim dalam 500 tahun mencakup,bidang medis (kedokteran) Ibnu Rusd, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Ghozali sebagai filosof, arsitektur, matematika (Al-Jabar), Al-Khawarizmi. Mereka merupakan sebagian kecil ilmuwan muslim yang sangat dikenang sejarah dan berkontribusi menolong  Eropa dan peradaban barat dari kegelapan menuju Renaisance. Ilmuwan muslim sebelumnya juga banyak belajar dari karya ilmuwan Yunani (abad 5-6) khususnya karya-karya Aristoteles, Plato, Eucliden dan filosof lainnya. Pertanyaannya mengapa sejak abad ke 12 ummat Islam, kebudayaan dan perdabannya tenggelam? Mengapa dan apa sebabnya Peradaban Islam menghilang dan kebudayaan Islam justru tenggelam dalam mistisisme, sufisme dan ritual yang membodohkan ummat? mengapa dan mengapa negeri muslim dijajah, dirampok kekayaan alamnya dan dihancurkan kedaulatannya? Lalu bagaimana Islam bangkit dan menyadari dirinya? Inilah tantangan generasi muda Islam sekarang hingga 200 tahun kedepan agar berjuang meletakkan kembali fondasi rasio dan kekuatan IPTEK Islam dimasa depan. Pencapaian besar dimulai dari pijakan kecil dan langkah-langkah nyata hari ini, besok dan seterusnya secara konsisten, tawadhu’, istiqomah dan sabar. Terima kasih.

Thank you so much, Arigato, Merci.

Note: Lihat pemikiran dan tulisan Galileo Galilei, Newton, Einstein, Immanuel Kant, Aquinas, Plato, Euclides, Edwin Hubble, Friedman, Copernicus, Ticho Brahe, Stephen Hawking, Wiliam Blake, Gagasan Kitab Suci Bibel, Al-Qur’an dan pemikiran Yahudi mengenai angka keramat dan lainnya.

*) Iwan Febriand Vegan, adalah penulis dan peneliti multi-disipliner terkait  bidnag intelijen dan militer, arsitektur, teknologi, filsasfat, ekonomi, ekologi hingga antropologi. selain itu juga isu sektoral terkait pertanian, pendidikan, kesehatan, hukum dan hubungan internasional. Tinggal di Bogor bersama Istri Rini Nurulita Vegan dan kedua putrinya Cholila dan Cholida. Dapat dihubungi pada Hp. 081317942168 email : troisebien@yahoo.com dan wsi-corplink@yahoo.com.

About bintcorplink

best today best tomorrow best forever
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s